Sabtu, 04 Mei 2013

Dear, Rinda


Hai, Rinda. Apa kabar? Aku Rafi. Ingat?

nomor asing itu muncul di layar hpku dengan membawa pesan saat hujan mengguyur di tengah siang. Segera kubalas.

Maaf, kmu siapa?aku enggak ingat punya teman namanya Rafi.

Beneran enggak inget? Ternyata emang kenangan tentangku enggak membekas sama sekali ya, harusnya aku tau klo kamu bakalan lupa sama aku.

Apaan sih ini anak? kenangan apa coba? aku mencoba mengingat lagi. Rafi. Dari TK sampai sekarang aku tidak punya teman yang namanya Rafi.

Sumpaaaaaahhhh. ini sapa? Rafi siapa? Kenangan apa? Maaf klo aku enggak inget tapi aku baneran enggak tau.

Aku Rafi. Ingat itu. Seharusnya dari namaku aja kamu sudah tau siapa aku. Jadi, aku simpulkan kalau kamu memang bener-bener sudah ngelupain aku. Kalau kamu enggak inget, ya udah lebih baik kamu enggak perlu tau dan enggak perlu kamu inget-inget lagi biar kamu enggak nyesel sudah ngelupain seorang Rafi yang menunggumu dalam diam. Tapi, walaupun kamu tidak bisa mengingatku yang dulu, selalu ingatlah aku mulai sekarang.

Hei, jika dari nama  saja seharusnya aku sudah kenal, berarti aku punya kenangan kuat dengannya. Tapi apa? aku mulai sebal sekaligus penasaran.

Gini yah, aku paling enggak suka keadaan kayak gini. Kamu siapa? Kita kenal dimana? Jawab jujur dan enggak usah berbelit – belit.

Ternyata kamu benar-benar sudah melupakanku sama sekali. Aku kecewa. dan  jangan buat aku lebih kecewa jika aku memberitahumu tentangku dan kenangan kita tapi kamu masih tetap tidak ingat. Tak apa jika kamu tak bisa mengingatku karena aku tau kenangan kita terlalu singkat dan sudah sekian lama. Tapi aku tetap ingin dekat denganmu dan tak ingin mengatakan apa-apa lagi soal kita di masa lalu karena itu hanya akan membuatku sakit.

Ealah plis, aku pengen mengingatmu lagi.

Percuma. Kamu tuh emang cuma tau namaku aja. Tapi, aku tau kamu, bahkan lebih dari itu. Kamu kenangan termanis. Seperit namamu. Marinda. dan akan tetap jadi kenangan yang manis andai saja kamu tidak melupakanku. Hari itu hujan, seperti sekarang. dan setiap hujan turun, aku tersiksa oleh rindu. aku selalu takut kamu lupa sama aku setiap kali aku pengen sms kamu. dan aku enggak tau harus  ngomong apa setelah sekian lama tidak bertemu. 

Aku menyerah, mungkin ini cuma anak iseng. Tapi ceritanya tentang hujan itu mengingatkanku pada Ryan. seperti Rafi, aku selalu merindukan Ryan setiap hujan turun. Tapi Rafi bukan Ryan dan itulah kecewaku.

Tak bisa kulupa, saat-saat indah bersamamu, semua cerita, mungkin kini hanya tinggal kenangan. Kau tak disini, aku pun telah kau hapus dari hidupmu. Lupakan saja diriku untuk selama-lamanya. tidurlah malam ini dengan segenap rasa. aku harap kamu memimpikanku untuk terakhir kalinya. Bangunlah nanti dengan hati tersenyum. kini tibalah saatnya  kita harus berpisah. Dari yang akan selalu mengingat hari ini. Sabtu, 19 nov 2011. Rafi

Sms rafi datang tepat saat aku meraih bantalku untuk tidur. Huuft. benar enggak ya yang di omongin rafi itu? Kenapa aku tidak ingat sama sekali tentang dia. Tapi, aku tidak mau menyakiti perasaan Rafi sekalipun aku tidak ingat pernah mengenalnya.

Jelaslah aku akan melupakanmu, aku kan emang enggak kenal sama kamu.

Sebenarnya kamu kenal aku. Tapi kamu enggak inget aja. ironis. padahal aku slalu mengingatmu bahkan sampe menyukaimu sejak pertama kali bertemu. Tapi kamu ingat namaku aja enggak. Mencoba mengingatku pun enggak. enggak apa-apa kalau kamu pengen nganggap aku enggak ada, ngelupain aku. Tapi bagiku tak mudah melupakan seseorang yang sudah aku sukai selama 3 tahun. Beri aku waktu untuk perlahan menjauhimu. Setidaknya izinkan aku melihatmu dari depan, bukan dari belakang lagi. Aku pengen jadi tamanmu walaupun itu  singkat dan aku mau enggak mau harus hilang darimu
.
Oke, tapi aku aja enggak merasa pernah bertemu kamu, kita berteman kayak apa?

Hey, emang kalau berteman itu harus ketemu dulu? Di fb aja enggak perlu. Lagipula, ingat, kita pernah bertemu 3 tahun yang lalu. aku cuma mau berbagi masalahku saja denganmu. karena makin lama, masalah yang terjadi lebih berat dan aku butuh kamu.

Nah yang aku bingung, aku enggak pernh kenal sama kamu. Dan rafi. aku enggak pernah dengar nama itu. kamu salah kali,bukan rinda aku.

Aku tau banyak tentangmu, kamu marinda rosita sari. Anak smanika. rumahmu di tarik. Kamu anak tunggal. setiap hari diantar ke sekolah sama ortu. Rambutmu pirang. Suka pakai bando. hpmu baru ganti. dan banyak lagi. Sekarang kamu percaya kalau aku enggak mungkin salah orang kan?

Aku terdiam.itu benar-benar aku. Tapi bagaimana bisa?

Hey, kamu nguntit aku ya?

Emang. Krna aku suka sama kamu, seseorang yang menyukai orang lain selalu pengen tahu tentang org itu. Apapun tentanggmu itu penting buatku.maaf kalau itu ganggu.

He.itu ganggu banget tau. Lebih baik kamu berhenti ngikutin aku deh. sudahlah aku pusing, aku pengen tidur aja.

Oke, selamat malam

.................................................................................................................................................


Selamat pagi Rinda, telahkah kamu bangun dengan tersenyum? Karena matahari tersenyum pada semuanya, pada burung, pada bunga di taman, bahkan pada batu-batu di pinggir jalan. Tersenyumlah. dan kuharap senyum itu untukku juga. 

Pagi itu, lagi-lagi aku menerima sms dari Rafi. dan aku tau Rafi pasti cowok yang romantis. Yah, walaupun cowok romantis dan misterius seperti dia adalah tipe cowok yang aku sukai. Tapi segala tentang cowok romantis mengingatkanku pada cowok romantis lain yang bisa menyanjung hatiku. Menanam bunga – bunga cinta di dalamnya. yang memberiku perasaan terdalam dan setelah itu meninggalkanku tanpa aba – aba dan penjelasan. Ryan.


Sorenya..
My dear Rinda, sore ini, cerah tanpa hujan, walaupun setiap hujan turun aku tersayat oleh rindu,aku selalu menantikannya karena itu akan membuatku mengingatmu. disini,diantara aroma basah hujan dan rasa rindu ,aku terjebak untuk keempat kalinya dalam ruang putih  besar bersama beberapa orang lain mengikuti seminar saham. kata papa aku hrus mulai mengenal hal smacam ini dan aku berangkat deminya. Mungkin yang lain  menikmati keadaan ini. tapi aku tidak. Aku dan saham atau semacam itu bukanlah melodi yang tepat. aku bosan. tapi aku tak ingin mengecewakan papa karena aku tau kecewa itu sakit. aku usir bosan dengan menekuri layar hp, aku tulis puisi ini untukmu.

Kau sedekat nafas
Tapi itu hanya bayangmu
Jiwamu entah dimana
Kutempuh jalan kemana lagi
Sedangkan diujungnya pintu hatimu tertutup
Akupun hanya debu dibalik batu
Tapi karnamu aku menjelma menjadi angin
Menemui siang,pagi dan malammu


Esok paginya aku benar-benar terbangun dengan senyuman. Dan senyumku merekah lagi saat message alert dari hpku berdering dan aku menemukan nama rafi disana.

My dear Rinda,pagi ini aku diundang faiz ke rumahnya. Disana aku menemukan gitar dan mencoba memainkannya. Faiz lihat aku bisa jadi hebat kalau aku sering berlatih dan dia mengijinkanku kerumahnya kapanpun untuk melatih kemampuanku.haha. masak aku bisa jadi hebat? tapi aku senang sekali dan akan terus melatih permainan gitarku. aku memang ingin gitar dari dulu tapi papa tak mengizinkanku karena dirumah sudah ada piano.menurutmu aku cocok jadi musisi atau penyair?

Menurutku musisi dengan  syair lagu puitis cocok untkmu.  enggak tau juga sih.

Sudahlah, lupakan saja! Kata papa aku harus jadi pengusaha agar aku bisa berpikir ke depan. aku tak akan menyalahkan beliau karena dia tidak bisa mengenali nada atau menggubah sebaris sajak. dan aku tau aku memang suka terpaut pada masa lalu dan mengarungi kehidupan seperti air,mengalir apa adanya tanpa rencana. seperti aku yang selama 3 tahun tetap terpaut padamu tanpa rencana pasti untuk mendekatimu.

Mungkin ayahmu hanya ingin mengubah pola pikirmu saja. Tapi cara beliau salah. Lakukan saja kalau kau punya keberanian dan lakukan dengan halus.

Tapi itulah seniman. Masalah seorang seniman adalah kita terlalu terbawa khayal membumbung tinggi ke atas langit sehingga kita jarang menyadari untuk berpijak ke bumi. dan bagiku syair dan melodi adalah bumbu pas pengusir rindu dan kesepian. Salahkah jika aku menjalaninya seperti ini?

Tidak, buktinya untuk punya cita-cita. papamu hanya khawatir. Ngomong saja dulu pasti papamu akan mengrti. It’s ur life.

Ok.Makasih banyak rinda, kamu memang bisa kuandalkan.

Aku tak tahu kenapa aku bisa seakrab itu dan mau menanggapi cerita yang mungkin hanya karangan Rafi saja. Tapi, dalam hati aku percaya  Rafi anak yang baik.
Hari-hari, minggu-minggu, dan bulan-bulan berikutnya Rafi kerap sekali bercerita apapun padaku. Aku tau sekarang kalau dia anak kaku, Hanya mempercayai orang – orang tertentu dan agak kurang pengertian sebenarnya. Tapi dia keren, romantis, pengetahuannya secara umum luas, asyik diajak diskusi, dan mempunyai kharisma kuat. Dia punya suatu cara yang membuatnya tidak akan terlupa.
Hari ini, tanggal 16 november. Hujan sore itu kembali mengingatkanku pada Ryan. Mungkin Rafi akan mengingatku tapi, akankah Ryan begitu?

Dear Rinda, hari ini genap 4 tahun sejak kita bertemu. Aku sangat berterima kasih kamu mau mendengarkan dan mengerti aku. aku puas dan cukup bahagia. Hari ini, seperti 4 tahun yang lalu, hujan, 16 november 2010 hari itu hujan, warung bakso tempatku duduk segera penuh dengan orang yang meneduh dan sekalian makan. Aku tak memerhatikan mereka. Aku tetap menekuri kertas-kertas sajak itu dan membacanya berulang-ulang. lalu saat kubuang kertas itu, kamu memungutnya dan membacanya keras-keras.
Cinta. Cinta adalah sebuah kedalaman rasa. Ibarat seseorang tergores pisau tajam lalu perih, atau saat membuka jendela di pagi hari.
Kau dan aku pun tersenyum dan akhirnya kau menuliskan nomor teleponmu di kertas itu. Itulah awal petualangan kita.
Dan sekarang aku harus pergi dari hidupmu, aku harus ke prancis untuk belajar sastra. terimakasih, karenamu aku bisa meyakinkan papaku akan mimpiku. tapi jika kamu memang peduli padaku, temui aku di bandara. Sekarang sebelum aku pergi.

Aku  tersentak, itu adalah kenanganku dengan Ryan. Mungkinkah Rafi sebenarnya Ryan?
Aku bergegas ganti baju dan menuju bandara. aku terbayang lagi semua yang kuingat tentang Ryan. Rasanya, lama sekali aku sampai ke bandara yang hanya berjarak beberapa kilo lagi dari tempatku. Dan ketika sampai aku tergesa – gesa mencari sosok Ryan. Apa yang aku dapat? Pesawat itu terbang di hadapanku, meninggalkanku deng harapan kosong, penyesalan dalam. aku menangis, terisak, dan tertegun melihat burung besi itu terbang menjauh.
“Rinda.” Seseorang menepuk pundakku dari belakang. Itu Ryan dengan membawa bunga. Dia muncul dihadapanku dengan tersenyum. aku tidak bisa melukiskan perasaanku selain hanya ingin memeluk dia dan tidak ingin melepaskan dia untuk selama-lamanya. Dia adalah my dear Rafi Putra Ar-rayan. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar