Aku keluar tanpa berpamitan pada seorang pun. Lagipula berpamitan kepada siapa? Seorang refa andira yang memutuskan tinggal sendiri di surabaya setelah orang tuanya bercerai tidak punya lagi seseorang yang akan mencarinya kemanapun ia. Papa aja di bandung, mama malah tinggal di amerika. Bodoh amat. Masak mau telpon tiap kali keluar.
“malam, princess” aku menepuk pundak belakang putri yang sedang menonton tv.
“refa. kan udah kubilang jangan manggil aku princess. Putri tau” omelnya.
Padahal, dari awal aku tau kalau princess itu artinya putri, aku udah manggil dia gitu. Akhirnya aku duduk di sofa sebelah putri dengan tampang biasa-biasa saja dan setelah memutuskan untuk tetap mengulangi manggil princess lain kali. Semata-mata itu karena iseng, bukan hal yang masuk tindak pidana, dan karna itu panggilan kesayanganku buat dia.
“namamu kan putri. Putri adalah princess. Princess is putri. Lagian kamu kan emang kayak princess. Feminim, lembut dan gampang tersentuh.sekarang aja kamu lagi nangis Cuma gara-gara liat film doang. Film apa sih?” aku mengambil tisu dan mengusap air mata di pipi putri. Entah kenapa, setiap menangis, Putri selalu membiarkan air matanya berceceran kemana-mana hingga aku datang mengusapnya bagai pekerjaan terhormat setara sekretaris kepresidenan. Sampai-sampai aku hafal dimana tempat persediaan tisu ketika di tisu di meja habis. Hafal harga tisu di toko sebelah jika tisu di rumah habis dan hafal harga tisu di blok lain jika tisu di toko sebelah out of stock.
“enggak liat aku liat Heart? dan kamu datang buat ngerusak endingnya” jawab putri.
“ih, itu kan film udah dari dulu masih diliatin”
“itu salah satu film favoritku. Masak kamu lupa sih?”
“iya-iya, sorry deh. Lagian kamu kan punya banyak film favorit. Kayaknya semua film itu favorit kamu, karnea sering banget kan kamu nangis gara-gara film” timpalku.
“ye. Mana ada, film favoritku itu, heart, titanic, 3 idiot, crazy litlle thing called love, kimi ni todoke, i give my first love to you, taiyo no uta. Dan.. em,apa ya”
“tuh kan, kamu sendiri aja lupa semua film favorit kamu. Rata-rata semua kamu senengin“ jawabku. Putri berpikir sejenak memikirkan kataku.
“yah, mungkin kmu benar,fa”
“eh, malam ini aku nginep di rumahmu ya?”
“oke, yuk ke kamar,tidur”
“leh, tunggu. Ini kan masih jam 9 put”
“kamu kan tau aku selalu tidur jam 9 di hari biasa. Udah ah, ayo cepet ganti baju”
“yaah, enggak asik ah” jawabku. Walaupun begitu, aku mengikuti putri berjalan ke kamar. Memakai piyamaku yang memang aku tinggal di rumah putri dan beranjak ke atas kasur. Seperti biasa, putri memutar lagu sebelum tidur. Kali ini irwansyah-perempuanku mengalun indah.
''turn off, dear. I will sing it for u” kataku. Lagu-lagunya irwansyah selalu bisa aku nyanyikan.
“alright. Ngurangi radasi hp. arigatou”
Saat masuk kelas semua orang sudah ramai, ada yang bermain gitar, biola, ada juga yang menyanyi. Terbawa suasana, aku dan putri tergoda untuk menyanyi. Kami mencari tempat duduk dan mulai menyanyi kan lagu sampai menutup mata milik acha septriasa. Putri mulai dg bait pertama.
Embun di pagi buta..
menyebarkan bau basah
detik demi detik inipun, inikah saat ku pergi
Dan tiba-tiba seseorang dari arah jam 7 mengiringi lagu itu dengan gitar. Jadilah pagi itu menjadi pagi mereka berdua
“Apaan nih” sahut putri ketika aku baru saja duduk. Putri menemukan coklat Delfi rasa milk kesukaannya dalam ukuran besar di laci mejanya pagi itu. Oke, bukan masalah. Itu cuma coklat yang biasanya juga diborong putri dimanapun ia menemukan coklat itu. Tapi, yang membuat dadaku terasa nyeri adalah kartu ucapan bergambar gitar dan microphone. Serat tulisan berbunyi
i haven’t sleep at all in days
Lagu itu terus mengiang di pikiranku bahkan ketika mp3 ku sudah berganti dengan lagu yang lain. rasa itu ada dan begitu nyata sekarang. Hanya saja aku salah dengan memberikan perasaan itu untuk sahabat cewekku sendiri. Menyalahi kodrat yang ditentukan tuhan.
Sekarang, sekarang tak ada lagi malam berdua di teras rumah putri dengan coffemilk buatannya. Dan aku masih tetap bikin coffemilk sendiri walau g ada putri. enggak ada nonton film bareng atau pajamas party. Tapi, perasaanku enggak berubah. Kenangan itu ada, dan aku menyimpannya dalam dada. Dengan sedikit rasa senang dan kebanyakan ngilu di hati.
aku membawa coffemilkq dari dapur. Kali ini ke taman belakang rumahku sendiri. Yah, sendiri. Keheningan malam menyergapku, membawaku mengalun ke nada yang menyayat hati. Mengingat yang telah terjadi. aku tau, enggak ada yang bisa kulakukan selain membiarkan putri menjalani hari-harinya bersama Rafael. Cinta pertamanya setelah belasan tahun tak ada yang benar-benar mengisi hatinya. Sebenernya mungkin putri tak lebih beruntung daripada aku. Aku sudah menemukan seseorang yang menjadi gravitasi hidupku sudah sekian lama. Tapi apa bedanya. Aku belum menyatakan cintaku dan mungkin tak akan pernah tersampaikan. Bolehkah aku terbang jika aku tak punya sayap? Bahkan jika aku burung pun, putri akan menjadi langit.
“Mulai” aku masih memperhatikan Putri saat permainan dimulai. Aku kalah start dan kulihat Rafael berada di urutan pertama. Tak berapa lama aku melesat mengejar Rafael. Sebentar saja aku bisa mencapainya. Dan ketika ku mencoba mendahuluinya, kudengar teriakan Putri.
“Ayo Rafael..!” sontak aku menoleh kebelakang untuk mencoba melihat ke arah putri. Tapi detik selanjutnya motorku jatuh dengan keras dan aku terhimpit. Lalu gelap,hanya gelap.
“Refa, kamu sudah sadar. Aku minta maaf fa, aku tau kamu jatuh gara-gara aku. Aku tau seharusnya aku dukung kalian berdua. Bukan hanya Rafael. Aku minta maaf”
“kamu enggak perlu minta maaf.aku yang salah”
“kamu enggak salah refa, aku yang salah.”
“enggak. Aku salah karena aku mencintaimu”kataku akhirnya. Putri terdiam. Kaget dan bingung. Aku sudah mengira akan begini jadinya.
“aku tau ini sangat salah. Tapi, memang aku mencintaimu. Bukan sebagai sahabat. Tapi sebagai seseorang yang sangat berarti untukku”
Aku melewati pagar setinggi 1 meter di depanku dengan mudah. Seperti biasa, aku tak mau repot-repot melewati gerbang depan rumah putri, sahabat kecilku. Dialah alasanku untuk tetap tinggal disini.
“malam, princess” aku menepuk pundak belakang putri yang sedang menonton tv.
“refa. kan udah kubilang jangan manggil aku princess. Putri tau” omelnya.
Padahal, dari awal aku tau kalau princess itu artinya putri, aku udah manggil dia gitu. Akhirnya aku duduk di sofa sebelah putri dengan tampang biasa-biasa saja dan setelah memutuskan untuk tetap mengulangi manggil princess lain kali. Semata-mata itu karena iseng, bukan hal yang masuk tindak pidana, dan karna itu panggilan kesayanganku buat dia.
“namamu kan putri. Putri adalah princess. Princess is putri. Lagian kamu kan emang kayak princess. Feminim, lembut dan gampang tersentuh.sekarang aja kamu lagi nangis Cuma gara-gara liat film doang. Film apa sih?” aku mengambil tisu dan mengusap air mata di pipi putri. Entah kenapa, setiap menangis, Putri selalu membiarkan air matanya berceceran kemana-mana hingga aku datang mengusapnya bagai pekerjaan terhormat setara sekretaris kepresidenan. Sampai-sampai aku hafal dimana tempat persediaan tisu ketika di tisu di meja habis. Hafal harga tisu di toko sebelah jika tisu di rumah habis dan hafal harga tisu di blok lain jika tisu di toko sebelah out of stock.
“enggak liat aku liat Heart? dan kamu datang buat ngerusak endingnya” jawab putri.
“ih, itu kan film udah dari dulu masih diliatin”
“itu salah satu film favoritku. Masak kamu lupa sih?”
“iya-iya, sorry deh. Lagian kamu kan punya banyak film favorit. Kayaknya semua film itu favorit kamu, karnea sering banget kan kamu nangis gara-gara film” timpalku.
“ye. Mana ada, film favoritku itu, heart, titanic, 3 idiot, crazy litlle thing called love, kimi ni todoke, i give my first love to you, taiyo no uta. Dan.. em,apa ya”
“tuh kan, kamu sendiri aja lupa semua film favorit kamu. Rata-rata semua kamu senengin“ jawabku. Putri berpikir sejenak memikirkan kataku.
“yah, mungkin kmu benar,fa”
“eh, malam ini aku nginep di rumahmu ya?”
“oke, yuk ke kamar,tidur”
“leh, tunggu. Ini kan masih jam 9 put”
“kamu kan tau aku selalu tidur jam 9 di hari biasa. Udah ah, ayo cepet ganti baju”
“yaah, enggak asik ah” jawabku. Walaupun begitu, aku mengikuti putri berjalan ke kamar. Memakai piyamaku yang memang aku tinggal di rumah putri dan beranjak ke atas kasur. Seperti biasa, putri memutar lagu sebelum tidur. Kali ini irwansyah-perempuanku mengalun indah.
''turn off, dear. I will sing it for u” kataku. Lagu-lagunya irwansyah selalu bisa aku nyanyikan.
“alright. Ngurangi radasi hp. arigatou”
Putri mulai memosisikan badan. dia enggak keberatan aku nyanyi untuknya karna suaraku emang bagus. Kita berdua sudah cinta sama dunia musik apalagi nyanyi. Aku mulai menyanyikan lagu saat putri terbaring di sampingku. Dan saat Putri benar-benar terlelap, aku berhenti. Membelai rambutnya, memeluknya, dan memegang tangannya hingga aku tertidur. Aku menikmati jari-jari lembutnya dan senang bisa berpura-pura memilikinya untuk satu malam ini
***
Saat aku membuka jendela di pagi hari, aku silau dengan sinar matahari pagi. Bukan karena aku bangun kesiangan, tapi karna pagi ini pagi yang cerah. Mungkin ini pertanda bahwa hari ini hari yang baik untuk memulai lingkungan baru. Yah, hari ini adalah hari pertama aku dan putri masuk kuliah di institut kesenian. Sudah ditebak kita berdua mengambil seni musik kesukaan kami.
Saat masuk kelas semua orang sudah ramai, ada yang bermain gitar, biola, ada juga yang menyanyi. Terbawa suasana, aku dan putri tergoda untuk menyanyi. Kami mencari tempat duduk dan mulai menyanyi kan lagu sampai menutup mata milik acha septriasa. Putri mulai dg bait pertama.
Embun di pagi buta..
menyebarkan bau basah
detik demi detik inipun, inikah saat ku pergi
Dan tiba-tiba seseorang dari arah jam 7 mengiringi lagu itu dengan gitar. Jadilah pagi itu menjadi pagi mereka berdua
***
Siapa sangka nyanyian bisa memberikan sesuatu yang abadi? Dan itulah yang terjadi dengan Putri dan Rafael, cowok yang menjadi pengiring lagu yang dinyanyikan putri pada hari pertama kami masuk kuliah. Rafael sudah berhasil mengambil hati Putri. Dan, pagi itu cinta mereka menjadi nyata sekali.
“Apaan nih” sahut putri ketika aku baru saja duduk. Putri menemukan coklat Delfi rasa milk kesukaannya dalam ukuran besar di laci mejanya pagi itu. Oke, bukan masalah. Itu cuma coklat yang biasanya juga diborong putri dimanapun ia menemukan coklat itu. Tapi, yang membuat dadaku terasa nyeri adalah kartu ucapan bergambar gitar dan microphone. Serat tulisan berbunyi
i haven’t sleep at all in days
It been so long since we play music togheter
I jxt dunno what im doing but i know that u r driving me crazy
***
“cinta, cinta, cinta.. aku jatuh cinta.. dan seterusnya rasa itu slalu terjadi dan tak pernah berkurang. hatiku hanya untuk dirimu aku bahagia hanya bila kamu bahagia”
Lagu itu terus mengiang di pikiranku bahkan ketika mp3 ku sudah berganti dengan lagu yang lain. rasa itu ada dan begitu nyata sekarang. Hanya saja aku salah dengan memberikan perasaan itu untuk sahabat cewekku sendiri. Menyalahi kodrat yang ditentukan tuhan.
Bagi putri, aku adalah sahabat cewek atau kakak perempuan yang selalu melindunginya. Tapi tidak bagiku, putri lebih dari itu.Putri adalah belahan jiwa. Cinta terlarang itu aku rasakan lama sekali dan tak berniat mencoba menghilangkan perasaan itu bahkan untuk sekarang.
Sekarang, sekarang tak ada lagi malam berdua di teras rumah putri dengan coffemilk buatannya. Dan aku masih tetap bikin coffemilk sendiri walau g ada putri. enggak ada nonton film bareng atau pajamas party. Tapi, perasaanku enggak berubah. Kenangan itu ada, dan aku menyimpannya dalam dada. Dengan sedikit rasa senang dan kebanyakan ngilu di hati.
aku membawa coffemilkq dari dapur. Kali ini ke taman belakang rumahku sendiri. Yah, sendiri. Keheningan malam menyergapku, membawaku mengalun ke nada yang menyayat hati. Mengingat yang telah terjadi. aku tau, enggak ada yang bisa kulakukan selain membiarkan putri menjalani hari-harinya bersama Rafael. Cinta pertamanya setelah belasan tahun tak ada yang benar-benar mengisi hatinya. Sebenernya mungkin putri tak lebih beruntung daripada aku. Aku sudah menemukan seseorang yang menjadi gravitasi hidupku sudah sekian lama. Tapi apa bedanya. Aku belum menyatakan cintaku dan mungkin tak akan pernah tersampaikan. Bolehkah aku terbang jika aku tak punya sayap? Bahkan jika aku burung pun, putri akan menjadi langit.
***
“Brrmm..Brmmm” suara deru motor menggeram, aku sudah bersiap-siap di garis start. aku menatap Rafael tajam. Tapi Rafael memasang senyum bersahabat. Putri masih berdiri diantara penonton yang melihat kami. Entah bagaimana rasanya melihat pacar dan sahabatnya bertanding bersamaan. Atau biasa saja. Toh, ini hanya balapan liar dan bukan hanya aku dan Rafael saja yang ikut.
“Mulai” aku masih memperhatikan Putri saat permainan dimulai. Aku kalah start dan kulihat Rafael berada di urutan pertama. Tak berapa lama aku melesat mengejar Rafael. Sebentar saja aku bisa mencapainya. Dan ketika ku mencoba mendahuluinya, kudengar teriakan Putri.
“Ayo Rafael..!” sontak aku menoleh kebelakang untuk mencoba melihat ke arah putri. Tapi detik selanjutnya motorku jatuh dengan keras dan aku terhimpit. Lalu gelap,hanya gelap.
***
Putri. Itulah yang aku ingat dan aku lihat pertama kali
“Refa, kamu sudah sadar. Aku minta maaf fa, aku tau kamu jatuh gara-gara aku. Aku tau seharusnya aku dukung kalian berdua. Bukan hanya Rafael. Aku minta maaf”
“kamu enggak perlu minta maaf.aku yang salah”
“kamu enggak salah refa, aku yang salah.”
“enggak. Aku salah karena aku mencintaimu”kataku akhirnya. Putri terdiam. Kaget dan bingung. Aku sudah mengira akan begini jadinya.
“aku tau ini sangat salah. Tapi, memang aku mencintaimu. Bukan sebagai sahabat. Tapi sebagai seseorang yang sangat berarti untukku”
***
“kamu yakin mau pergi ke amerika fa?” putri menanyaiku dan aku mengangguk dengan mantap sekali lagi. aku pegang erat-erat koperku. aku enggak akan membatalkan keputusanku walaupun aku pasti akan merindukan putri.
“yah, disana setidaknya ada mama dan aku tidak perlu malu lagi mengakui kalo aku seorang lesbian, disana aku bisa jadi diriku sendiri”
“kau tak pernah sejauh itu sebelumnya fa”
“kan kamu udah ada Rafael, aku yakin kalian itu true love.dan rafael pasti bisa bahagiain kamu. Aku hanya ingin..” aku lalu meraih wajah putri dan menciumnya. 1 detik. 2 detik. 3 detik. Tapi, kesempatan bisa berciuman dengan putri adalah anugrah yang tak akan pernah kulupakan. Lalu aku pergi tanpa berkata-kata lagi dan masih dibayangi wajah putri yang kaget setelah berciuman denganku.
Epilog
Aku enggak nyangka ternyata Refa, sahabat cewekku sendiri bisa suka sama aku. Itu sangat mengejutkan bagiku dan yang paling mengejutkan adalah saat tiba-tiba dia menciumku. Oh,oh, jadilah ciuman bestfriend itu. aku malu banget plus malu. tapi mungkin orang-orang di sekitar mengira refa cowok. Soalnya refa selalu berpakaian dengan style cowok.
Bye-bye Refa, aku pasti merindukanmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar